Faktor - Faktor Penyebab Perubahan Iklim Global
Gas efek rumah kaca yang terlepas tadi
terperangkap di atmosfer Bumi, akibatnya menjadi insulator penahan panas dari
sinar matahari yang terpancar ke Bumi. Temperatur permukaan Bumi rata-rata
sekitar l5 °C (59 °F). Dalam kurun waktu 100 tahun terakhir,
temperatur Bumi mengalami peningkatan sebesar 0,6 °C (1 °F).
Menurut perkiraan para peneliti, Bumi akan mengalami pemanasan lebih jauh
hingga mencapai 1,4 - 5,8 °C (2,5 - 10,4 °F) di tahun 2100.
Kenaikan ini akan menyebabkan mencairnya es kutub dan menghangatkan suhu
lautan. Akibat mencairnya es di kutub, volume air laut akan meningkat dan
permukaan laut akan meningkat 9 - 100 cm (4 - 40 inchi).
Akibatnya
banyak pantai yang menghilang karena air laut jauh masuk ke daratan, bahkan
kemungkinan banyak pulau yang tenggelam terutama pulau kecil. Daerah yang
mempunyai iklim hangat akan menerima curah hujan yang tinggi, tetapi air hujan
membuat tanah menjadi cepat kering. Kekeringan yang terjadi akan mengakibatkan
banyak tanaman yang mati, bahkan suplai makanan banyak yang hancur di beberapa
tempat di belahan dunia.
Mahkluk
hidup yang ada akan banyak bermigrasi ke daerah dingin seperti kutub, dan
spesies yang tidak mampu pindah akan mengalami kehancuran. Pemanasan global
yang terjadi berpotensi menimbulkan kerusakan yang sangat besar. Sehingga para
ilmuwan, para pemimpin dunia yang peduli, dan para pemerhati lingkungan,
ramai-ramai menyerukan adanya kerjasama internasional untuk segera mengatasi
perubahan iklim global ini.
Penyebab
Efek Rumah Kaca
Di
tahun 2007, Indonesia dianggap sebagai salah satu negara penghasil emisi gas
rumah kaca terbesar di dunia. Di Indonesia banyak hutan yang dikonversi dan
pengeringan lahan gambut menjadi lahan pertanian. Selain Indonesia, negara penghasil
emisi gas rumah kaca adalah Amerika dan Cina. Emisi yang dihasilkan kedua
negara itu dua kali lipat dari emisi yang dihasilkan Indonesia. Emisi gas
rumaha kaca kedua negara berasal dari pengunaan bahan bakar fosil untuk
industri di negaranya.
Seorang
peneliti bernama Agus dan Van Noordwijk (2007) mengatakan, terjadinya banyak
pembakaran hutan pada lahan gambut menyebabkan pelepasan CO2 ke angkasa. CO2
yang dilepaskan ke angkasa sebanyak 734 ton ha-1 yang berasal dari karbon yang
tersimpan di vegetasi sebesar 200 ton ha-1. Tetapi fakta yang ada, jumlah
tersebut masih lebih rendah dari jumlah CO2 yang diemesikan sebenarnya.
Seandanya gambut yang terbakar tebalnya 10 cm penambahan emisi CO2 bisa
mencapai 220 ton ha-1, karena gambut mengandung karbon sekitar 6 ton per ha-1
cm-1.
Setelah
hutan dibakar, biasanya hutan akan beralih fungsi menjadi perkebunan sawit dan
tanaman semusim. Cara pengelohan lahan juga sangat memengaruhi besarnya emisi
CO2 yang akan dihasilkan berikutnya. Pembuatan drainase pada kebun sawit yang
dalamnya 80 cm, diestimasi bisa menghasilkan emisi CO2 sebanyak 73 ton ha-1
th-1. Jadi dalam kurun waktu 25 tahun menurut siklus tanaman sawit, akan
menghasilkan emisi CO2 sebanyak 1.820 ton ha-1. Suatu jumlah yang sangat besar.
Selain hal di atas masih banyak lagi penyebabnya.
Lapisan
Ozon Menipis
Indikasi
kerusakan pada lapisan ozon untuk pertama kalinya ditemukan oleh tim peneliti
dari Inggris, kira-kira setengah dekade yang lalu. Para peneliti dari
<em>British Antartic Survey</em> (BAS) melakukan penelitian di
Benua Antartika. Setelah beberapa tahun penelitian itu menemukan kerusakan yang
parah di lapisan stratosfer, yaitu merupakan lapisan ozon pelindung Bumi dari
radiasi sinar ultraviolet matahari.
Pada
kenyataannya, lapisan ozon di wilayah kutub Bumi, yang semakin membesar
sekarang ini benar-benar dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Bila hal itu tidak
segera diatasi, akan terjadi bencana alam yang luar biasa. Manusia yang ada di
dunia harus benar-benar diingatkan untuk tidak memakai bahan dan zat berbahaya,
yang akan merusak dan memusanahkan ozon dari atmosfer.
Manusia
bisa ikut berpartisipasi untuk memulihkan lapisan ozon di atmosfer dengan tidak
memakai lagi bahan dan zat berbahaya dalam kehidupan sehari-hari. Dan perlunya
dibuat undang-undang khusus mengenai pelarangan pengunaan bahan dan zat yang
berbahaya pada produk yang dipakainya. Seperti pemakaian lemari es dan AC yang
mengunakan chlorofluorocarbons (CFCs). Selain itu, penipisan pada lapisan ozon
secara global lebih mengerikan daripada bencana-bencana yang sedang terjadi
akhir-akhir ini.
Bencana
yang terjadi tidak hanya akan menghancurkan infrastruktur, tetapi juga dapat
memusnahkan segala kehidupan yang ada di muka Bumi. Bila penipisan lapisan ozon
berlanjut secara terus-menerus, kehancuran total seluruh kehidupan tinggal
menunggu waktunya.
Jika
bahan dan zat berbahaya dilarang pengunaannya, berdasarkan perhitungan yang ada
lapisan ozon di kutub akan menutup kembali sampai abad ke 21. Iniromida dan
bahan bakar hidrogen juga berperan sebagai perusak lapisan ozon, tetapi perusak
utama tetaplah chlorofluorocarbons (CFCs). Saat ini negara-negara industri maju
sudah tidak mengunakan bahan berbahaya ini lagi, dan dalam waktu dekat akan
dibuat peraturan yang menghapus pengunaannya.
Chlorofluorocarbons
(CFCs) lebih berbahaya daripada karbondioksida, chlorofluorocarbons (CFCs) yang
ada di atmosfer mempercepat laju terjadinya pemanasan global.
chlorofluorocarbons (CFCs) tetap berada di atmosfer dalam waktu yang lama,
bahkan bisa berabad-abad. Artinya, kontribusi chlorofluorocarbons (CFCs) dalam
penipisan ozon dan perubahan pada iklim di Bumi kan berlangsung sangat lama.
Kelestarian
Hutan Tidak Terjaga
Hutan
merupakan salah satu sumber daya yang sangat penting. Selain sebagai penunjang
perekonomian nasional, hutan juga mempunyai daya dukung untuk menjaga
keseimbangan ekosistem yang ada di bumi. Indonesia adalah salah satu negara
yang mempunyai hutan terluas di dunia, sekitar 120.3 juta hektar. Sekitar 17 %
dari luas tersebut merupakan hutan konservasi dan 23 % merupakan hutan lindung
dan sisanya hutan produksi.
Dari
sisi kekayaan hayati, Indonesia termasuk dalam negara yang paling kayak
keaneragaman hayatinya. Menurut salah satu situs pemerhati lingkungan yaitu
Indonesian National Park, Indonesia mempunyai 10 % spesies tanaman yang ada di
seluruh dunia. 12 % spesies mamalia paling banyak di dunia, 16 % amfibi dan
reptil, 17 % spesies burung dan lebih dari 25 % spesies ikan yang ada di
seluruh belahan dunia.
Hampir
seluruh spesies tersebut merupakan spesies endemik yang hanya ada di Indonesia,
dan tidak terdapat di negara lain. Jika hutan dan keanekaragaman hayati
tersebut dijaga dengan baik, akan memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi
Indonesia. Keuntungan yang didapat meliputi ekonomi dan sosial. Sektor-sektor
lainnya sangat bergantung pada keaneragaman hayati ini, seperti sektor
pariwisata, industri, kehutanan, kesehatan, ilmu pengetahuan, penelitian,
pertanian dan perikanan.
Tapi
selama ini yang terjadi justru sebaliknya. Semenjak 1970 kerusakan hutan mulai
terjadi, ketika dibuka secara besar-besaran untuk tujuan komersial. Kerusakan
ini terjadi karena adanya penebangan secara liar, kebakaran hutan baik secara
sengaja maupun tidak, konversi hutan untuk lahan perkebunan dalam skala besar.
Akibatnya banyak satwa yang kehilangan habitatnya dan mengalami kepunahan, dan
ini termasuk tertinggi dalam kelompok negara yang tergabung dalam ASEAN.
Pengundulan
pada hutan juga mengurangi penyerapan karbondioksida oleh pepohonan di hutan.
Yang terjadi adalah emisi karbon meningkat hingga 20 % dan mengubah iklim
sebagaimana yang kita rasakan di tahun 2013 ini. Iklim berubah secara siklus
hidrologis dan mikro lokal dan menyebabkan kesuburan tanah berkurang.
Alangkah
baiknya kita semua mulai menyadari keadaan ini, dan mulai berusaha menjaga
lingkungan dan keletarian alam sekitarnya. Baik itu secara kelompok,
organisasi, pemerintah dan individu. Bukan hanya untuk kita saat ini tetapi
juga kelangsungan hidup anak cucu kita di masa depan.
Komentar
Posting Komentar